Rabu, 28 Januari 2015

Kingdom Animalia

Sejak dulu kala, manusia telah sangat erat berinteraksi
dengan hewan. Manusia memanfaatkan hewan dalam
banyak sekali bidang kehidupan. Mulai bidang
transportasi, militer, pertanian, hiburan, hingga untuk
memenuhi kebutuhan naluriah yang paling mendasar:
makan. Maka, kita pun mengenal kuda kereta, gajah
perang, sapi penarik bajak, lumba-lumba sirkus, hingga
ayam potong. Namun, semua yang disebut tadi barulah
bagian sangat kecil dari dunia hewan. Masih ada ribuan
spesies lagi, yang mungkin untuk melihat semuanya,
umur manusia sungguh terlalu singkat. Maka, pelajari
saja di bab ini, di bahasan mengenai Kingdom Animalia
(Dunia Hewan).

1. Ciri Umum
Hewan merupakan organisme atau makhluk hidup yang
dapat kitajumpai pada berbagai tempat. Ada berbagai
jenis hewan yang hidup di darat, di dalam air, di daerah
tropis maupun subtropis, dan bahkan di daerah gurun
yang sangat kering maupun daerah kutub yang sangat
dingin. Hewan juga memiliki cara hidup bermacam-
macam, ada yang hidup sebagai individu yang mandiri
dan ada pula yang hidup menumpang pada organisme
lain sebagai parasit, ada soliter dan ada yang berkelompok.
Ada hewan yang memakan tumbuhan, memangsa hewan-
hewan lain, dan ada yang memakan keduanya. Umumnya
hewan dapat bergerak aktif sehingga bisa berpindah dari
satu tempat ketempat yang lain. Beberapa kelompok hewan \
juga melakukan migrasi pada waktu-waktu tertentu. Hewan
bergerak untuk mencari makanan dan bertahan hidup.
Hewan-hewan tersebut berbeda antar kelompok satu dengan
yang lainnya, ada yang kecil ada yang besar, ada yang bisa
berlari, ada yang bisa terbang, dan ada pula yang bergerak
sangat lambat. Hewan juga memiliki tubuh yang berane ka
ragam warna dan bentuknya.
Namun demikian, hewan-hewan tersebut memiliki ciri-ciri
umum yang sama sehingga mereka dikelompokkan ke dalam
satu kelompok yang disebut Kingdom Animalia atau Dunia
Hewan. Ciri-ciri hewan adalah
1) organisme eukariotik dan multiselular.
2) bersifat heterotrof, yaitu mendapatkan energi dengan
     memakan organisme lain (tumbuhan atau hewan lain).
     Inilah sifat umum yang membedakan tumbuhan dan hewan.
3) Sel hewan tidak memiliki dinding sel.
4) Tidak memiliki klorofi l sehingga tidak mampu berfotosintesis.
5) Bereproduksi dengan cara yang khas, yaitu secara kawin
    (seksual). Hanya beberapa jenis yang dapat bereproduksi
    secara aseksual.
6) Sebagian besar hewan memiliki otak dan sistem syaraf.
7) Hewan merupakan organisme yang aktif bergerak (motile).

2. Klasifi kasi Hewan
Kingdom Animalia atau Dunia hewan oleh para ahli zoologi
dikelompokkan menjadi hewan invertebrata dan vertebrata.
Pengelompokan ini didasarkan pada ada dan tidaknya tulang
belakang (vertebrae). Hewan juga bisa dikelompokkan ber-
dasarkan habitatnya, ada yang hidup di darat atau terestrial
dan ada yang hidup di air (laut, payau, tawar) atau akuatik.
Namun demikian, kelompok-kelompok tersebut
bukan merupakan klasifi kasi ilmiah. Klasifi kasi dan
pemberian nama ilmiah hewan, secara international diatur
dalam International Code of Zoological Nommenclature atau
Kode Internasional Tatanama Hewan. Di bawah kategori
kingdom, Dunia Hewan dibagi ke dalam beberapa filum.
Dalam pembahasan berikut, untuk mempermudah pembelajaran
kalian, kita akan membedakan Kingdom Animalia ke dalam dua
kelompok besar, yaitu Invertebrata (hewan tidak bertulang
belakang) dan Vertebrata (hewan bertulang belakang).
B. Invertebrata
Invertebarta merupakan nama yang digunakan untuk menyebut
kelompok hewan yang tidak bertulang belakang. Kata ini berasal
dari bahasa Latin in (tanpa) dan vertebrae (tulang belakang).
Invertebrata merupakan kelompok hewan yang jumlahnya
sangat besar, terdiri dari berbagai fi lum, yaitu Porifera,
Cnidaria (Coelenterata), Platyhelminthes, Nemathelminthes,
Annelida, Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata. Pada
uraian berikut kalian bisa mempelajari ciri masing-masing
filum dan contoh jenis-jenis hewan yang menjadi anggota
filum tersebut.
1. Filum Porifera
Kata porifera berasal dari bahasa Latin porus (lubang kecil)
dan ferre (membawa). Jadi Porifera berarti hewan yang m
empunyai tubuh berpori, dikenal juga sebagai hewan
sponge atau spons. Porifera ini hidup menetap (sessil) pada
dasar perairan. Sebagian besar hewan ini hidup di laut dan
sebagian kecil yang hidup di air tawar. Bentuk tubuhnya
beraneka ragam, menyerupai tumbuhan, warnanya juga
sangat bervariasi dan dapat berubah-ubah.
Porifera memiliki beberapa karakteristik. Tubuhnya bersel
banyak, simetri radial, atau asimetris. Sel-sel tersebut
menyusun tubuh Porifera dalam dalam 2 lapis (dipoblastik),
membentuk jaringan yang belum sempurna dan di antaranya
terdapat gelatin yang disebut mesenkim. Tubuhnya
mempunyai banyak pori, saluran-saluran, dan rongga sebagai
tempat air mengalir. Sebagian atau seluruh permukaan dalam
tubuhnya tersusun dari sel-sel yang berleher yang berfl
agelum, disebut koanosit.
Porifera melakukan pencernaan makanan di dalam sel atau
secara intrasel. Umumnya Porifera mempunyai rangka dalam.
Hewan ini berkembangbiak secara kawin dan tak kawin.
Secara kawin dilakukan dengan sel telur dan sel spermatozoid.
Larvanya berbulu getar dan dapat berenang. Sedangkan secara
tidak kawin dengan bertunas.











Berdasarkan tingkat kompleksitasnya, sistem saluran air pada
Porifera dibedakan menjadi tiga, yaitu tipe askon, tipe sikon,
dan tipe leukon (rhagon). sebagai dasar klasifi kasi Porifera.
Berdasarkan sifat spikulanya, Filum
Porifera dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Kelas Calcarea,
Hexatinellida, dan Demospongia. Berikut penjelasannya:
a. Kelas Calcarea
Anggota kelas ini mempunyai rangka yang tersusun dari zat
kapur (kalsium karbonat) dengan tipe monoakson, triakson,
atau tetrakson. Koanositnya besar dan biasa hidup di lautan
dangkal. Tipe saluran airnya bermacam-macam. Hidup soliter
atau berkoloni. Contoh jenis yang menjadi anggota kelas ini
adalah Leucosolenia sp., Scypha sp., Cerantia sp., dan Sycon
gelatinosum. Perhatikan Gambar 8.2.
b. Kelas Hexatinellida
Pada anggota Kelas Hexatinellida, spikula tubuh yang tersusun
dari zat kersik dengan 6 cabang. Kelas ini sering disebut sponge
gelas atau porifera kaca (Hyalospongiae), karena bentuknya
yang seperti tabung atau gelas piala. Tubuh berbentuk silinder
atau corong, tidak memiliki permukaan epitel. Contoh anggota
kelas ini adalah Hyalonema sp., Pheronema sp., dan Euplectella
suberea.
c. Kelas Demospongia
Kelas ini memiliki tubuh yang terdiri atas serabut atau benang-
benang spongin tanpa skeleton. Kadang-kadang dengan spikula
dari bahan zat kersik. Tipe aliran airnya adalah leukon.
Demospongia merupakan
kelas dari Porifera yang memiliki jumlah anggota terbesar.
Sebagian besar anggota Desmospongia berwarna cerah,
karena mengandung banyak pigmen granula dibagian sel
amoebositnya. Contoh kelas ini antara lain Suberit sp.,
Cliona sp., Microciona sp., Spongilla lacustris,
Chondrilla sp., dan Callyspongia sp.

2. Filum Cnidaria (Coelenterata)
Filum ini disebut Cnidaria karena memiliki knidosit
atau sel-sel penyengat yang terdapat pada epidermisnya.
Cnidaria juga disebut Coelenterata karena mempunyai
rongga besar di tengah-tengah tubuh. Coelenterata
berasal dari kata coilos (berongga) dan enteron (usus).
Jadi, semua hewan yang termasuk fi lum ini mempunyai
rongga usus (gastrovaskuler) yang berfungsi untuk
pencernaan. Cnidaria memiliki tubuh bersel banyak,
simetri radial atau biradial, tidak mempunyai kepala
atau ruas-ruas tubuh. Dalam pergiliran keturunan,
Cnidaria mempunyai dua tipe hidup atau bentuk
tubuh. Kedua bentuk tubuh tersebut adalah bentuk
polip dan bentuk medusa. Cnidaria disebut sebagai fase
polip ketika hidup melekat pada suatu substrat dan tidak
dapat berpindah tempat (sessil). Sedangkan Cnidaria
disebut sebagai fase medusa ketika hidup bebas
berenang atau terapung di dalam air, hidup bebas
berpindah tempat karena terbawa air (planktonik).
Satu jenis Cnidaria selama hidupnya dapat berbentuk
polip, medusa, atau polip dan medusa, dijumpai pada
anggota kelas tertentu. Tubuh Cnidaria terdiri atas 2
lapisan sel (jaringan), yang luar disebut epidermis dan
yang dalam disebut gastrodermis (endodermis).
Kedua jaringan tersebut dipisahkan oleh lapisan mesoglea
yang berisi gelatin dan sel-sel syaraf. Pada epidermis
terdapat sel knidosit yang mengandung
racun penyengat (nematosit). Nematosit pada permukaan
knidoblas ini lebih berfungsi untuk membela diri
(menyengat mangsa atau musuhnya) dan juga untuk
membantu menangkap makanan, untuk bergerak dan
melekat pada substrat. Alat pencernaan pada Cnidaria
masih sangat sederhana, yaitu berupa saluran seperti
kantung yang disebut enteron.
Berdasarkan bentuk yang dominan dalam siklus hidupnya,
Filum Cnidaria dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Hydrozoa,
Scyphozoa, dan Anthozoa. Kelas Hydrozoa memiliki
bentuk polip dan medusa, pada Kelas Scyphozoa tipe
medusa lebih dominan, sedangkan pada Kelas
Anthozoa hanya memiliki tipe polip saja. Berikut
uraian masingmasing kelas tersebut.
a. Kelas Hydrozoa
Kelas Hydrozoa memiliki anggota yang kebanyakan hidup
di laut dan berkoloni, kadang-kadang ada yang soliter, dan
ada juga yang hidup di air tawar. Ukuran tubuhnya sangat
kecil dan mirip tumbuhan. Bila hidup berkoloni mempunyai
bentuk tubuh polip dan medusa, sedangkan
yang soliter hanya berbentuk polip. Hal tersebut menentukan
tipe hidupnya, apakah sessil atau planktonik. Contoh anggota
kelas ini adalah Hydra sp., Obelia sp., dan Physalia sp.













1) Hydra sp.
Hydra sp. merupakan jenis anggota Cnidaria yang hidup di air
tawar dan soliter (Gambar 8.6). Tubuhnya berukuran antara 1-3
mm, berbentuk polip, tidak mempunyai bentuk medusa, sehingga
hidupnya sessil. Tubuh berbentuk silindris, pada ujung yang
bebas terdapat mulut yang dikelilingi hipostome yang berfungsi
menangkap mangsa. Hewan ini bereproduksi secara vegetatif dan
secara generatif. Secara vegetatif Hydra sp. bereproduksi dengan
membentuk tunas.
2) Obelia sp.
Obelia merupakan anggota Kelas Hydrozoa yang hidup
di laut dan berkoloni (Gambar 8.7). Di dalam siklus hidupnya
dijumpai stadium polip dan medusa, tetapi bentuk polip lebih
dominan. Polip mampu membentuk tunas (reproduksi aseksual)
dan tunas-tunas tersebut tetap melekat pada induknya sehingga
membentuk koloni.
Polip-polip yang membentuk koloni ini ada yang bertentakel
dan ada yang tidak. Polip tidak bertentakel berfungsi untuk makan,
sedangkan yang bertentakel berfungsi untuk reproduksi. Polip
reproduksi mampu menghasilkan medusa secara pertunasan.
Medusa tersebut kemudian lepas dan hidup bebas secara
planktonik. Pada perkembangannya, medusa tersebut mampu
menghasilkan gamet sehingga fase hidup medusa dikenal dengan
fase seksual. Gamet-gamet tersebut akhirnya melakukan fertilisasi
dan membentuk zigot yang kemudian berkembang menjadi larva
bersilia (planula) dan planula tersebut menempel di dasar laut
dan tumbuh menjadi Obelia (polip).
3) Physalia sp.
Hewan ini hidup di laut. Tubuhnya unik, mempunyai bentuk
yang panjang membentuk polip dan terdapat bagian tudung yang
digunakan untuk mengapung (seperti medusa). Polip mempunyai
tiga bagian yaitu gastrozoid (pencernaan), gonozoid (reproduksi),
daktilozoid (menangkap mangsa). Physalia sp. merupakan
Coelenterata yang berbahaya bagi manusia.
b. Kelas Scyphozoa
Kelas Scyphozoa dikenal sebagai the true medusae (medusa sejati)
atau jelly fi sh (ubur-ubur). Fase medusa sangat dominan dan
fase polip tidak ada atau mereduksi. Bentuk tubuhnya seperti
parasut atau payung yang melayang-layang di laut. Perhatikan
Gambar 8.10 dan 8.11. Hewan ini memiliki lapisan mesoglea
yang tebal dan dapat digunakan sebagai sumber nutrien.
Contoh kelas ini antara lain Aurelia sp.,
Pelagia sp., Stomolopus sp., dan Chrysauna quinquecirrha.













c. Kelas Anthozoa
Kata anthozoa berarti hewan yang menyerupai bunga, berasal
dari Bahasa Yunani antho (bunga) dan zoon (hewan). Kelas ini
merupakan kelas dalam fi lum Cnidaria dengan anggota
terbanyak, meliputi koral, bunga karang (mawar laut), dan
anemon laut. Ukuran tubuhnya bervariasi.Semua anggotanya
hidup di laut, baik soliter atau berkoloni, dan hidupnya melekat
pada substrat. Mereka menghasilkan zat kapur
atau kalsium karbonat (CaCO3) yang membentuk terumbu karang.
Tubuh anthozoa berbentuk silinder pendek dan pada salah satu
ujungnya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel. Hewan ini hanya
memiliki bentuk polip, dengan mulut yang terbuka secara tidak
langsung, tetapi melalui faring yang menghubungkannya ke dalam
rongga gastrovaskuler. Rongga tersebut memiliki sekat-sekat yang
disebut me sentris. Di dalamnya juga terdapat nematosis yang
berfungsi mengeluarkan racun untuk melumpuhkan mangsa.
Contoh anggota kelas ini adalah Tubifora musica, Acropora sp.,
Meandrina sp., dan Anthipates sp.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar